logo

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA KANTOR WILAYAH PROVINSI JAWA TIMUR

Jalan Raya Bandara Juanda No.26, Telp. (031) 8686014, E-mail : kanwiljatim@kemenag.go.id

Selamat Datang di Situs Web Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Jalan Raya Bandara Juanda Nomer 26 Sidoarjo Jawa Timur Telepon 031-8686014, Nikah di KUA GRATIS, di Luar KUA Membayar Rp 600 ribu, Disetorkan Langsung ke Bank, ZONA INTEGRITAS KUA, Tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan Jika Terbukti!. Anda ingin Umrah? Pastikan 5!!! Pasti Travelnya, Pasti Jadwalnya, Pasti Terbangnya, Pasti Hotelnya, Pasti Visanya.

Character Building dan Terorisme

Senin, 17 April 2017, 09:00

Roudlon, S.Ag

(Guru MAN Lamongan)

Dalam beberapa hari terakhir, tanah air kembali dihebohkan kasus terorisme. Tiga teroris diamankan di Lamongan, kemudian segerombolan teroris yang diduga ingin balas dendam menyerang dua polisi yang bertugas di pos lalu lintas di Jalan Raya Jenu, Tuban. Sempat terjadi baku tembak dan akhirnya enam teroris berhasil ditumpas di ladang jagung milik warga desa Suwalan, Jenu, Tuban (Jawa Pos, 9 April 2017).

Rentetan peristiwa teroris tidak berhenti di situ. Di sejumlah daerah juga mengalami hal sama dengan sasaran polisi seperti di Banyumas, Jawa Tengah. Ini menjadi bukti bahwa sel jaringan mereka masih sangat aktif meski tokoh-tokoh mereka seperti Santoso sudah tewas ditembak.

Tentu ini menjadi pertanyaan besar, kenapa bisa terjadi? Padahal Tim Densus 88 Mabes Polri terus memburu dan membunuh satu per satu dari mereka. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga sudah kerja keras menangkal radikalisasi dengan anggaran tidak sedikit. Program deradikalisasi juga gencar dilakukan di sejumlah tempat termasuk membangun Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Plus di kampung halaman Amrozi, Solokuro, Lamongan.

Bila melihat berbagai kasus terorisme, kunci pemberantasan terorisme sebenarnya tidak terletak pada seberapa hebat tim Densus 88 dibentuk, tapi seberapa kuatnya negara dan bangsa melakukan pencerahan. Buktinya, tidak sedikit dari teroris yang sudah ditangkap tim Densus 88, justru menjadi pelaku lagi begitu keluar bahkan menjadi lebih hebat dengan jaringan lebih luas. Pemain-pemain baru juga terus bermunculan, seperti mengesankan mati satu tumbuh seribu.

Apa yang dilakukan Densus 88 dan BNPT memang sudah tepat. Cuma  follow up dari action kedua lembaga itu yang perlu diperkuat dengan mengubah pola pendekatan. Karena inti dari gerakan terorisme di tanah air adalah masalah pemahaman dan keyakinan, khususnya tentang konsep jihad. Buku pentolan teroris di tanah air, Imam Samudra yang ditulis di balik sel sebelum akhirnya buku itu dilarang menjadi bukti itu. Pelaku bom Bali itu bahkan memberi judul bukunya: "Aku Melawan Teroris" (2004). Padahal, dia teroris. Sesuai isi bukunya, gerakannya dilakukan karena sebuah pemahaman dan keyakinan.

Pemahaman mereka, terutama soal konsep jihad tidak bisa dianggap remeh yang bisa dimentahkan dengan dalil-dalil syar'i konvensional. Mengingat buku yang dijadikan referensi mereka untuk membentuk doktrin bukan buku biasa, tapi buku fiqh karangan ulama hebat dunia. Di antaranya buku berjudul "Al-Jihadu Salabina (Jihad Dalam Kami)" karangan Syeikh Abdul Baqi Ramdun. Juga "Kitabul Jihad", karya Syeikh Ibnul Mubarok, dan buku berjudul "Fi At-Tarbiyah Al-Jihadiyah", karya Syiekh Abdul Azam

Inilah persoalannya. Doktrin yang terbentuk sudah sangat kuat dari buku-buku fiqh mereka. Merubah keyakinan mereka tidak cukup hanya dengan program deradikalisasi sesaat, apalagi hanya dari forum seminar dan pengajian. Maka, tidak heran bila muncul pelaku-pelaku teroris lama, karena doktrin mereka memang masih melekat kuat. 

Untuk melawan keyakinan seperti itu tidak bisa dilakukan hanya dengan tindakan fisik, tapi lebih efektif dengan gerakan pencerahan. Apalagi, gerakan teroris sudah masuk ke rana medsos yang sangat mungkin mengenai anak muda negeri ini. Mengingat, jumlah pengguna internet dari anak  muda di tanah air sesuai hasil survei UNICEF terbaru, disebutkan sekitar 30 juta orang. Tentu, mereka menjadi mangsa potensial untuk direkrut sebagai teroris baru. Paling tidak, itu terbukti, pelaku teroris di Tuban, Banyumas, dan daerah lain ternyata teroris amatiran.

Mencegah mereka menggunakan media sosial tentu pekerjaan berat, apalagi sekarang menjadi trend anak muda. Yang bisa ditempuh adalah melakukan kegiatan pencerahan. Wahana paling efektif adalah melalui pendidikan. Jadi, dunia pendidikan sangat vital dan menjadi leading sektor membentuk karakter bangsa. Karakter inilah yang akan bisa menangkal virus teroris. Paling tidak akan bisa memutus mata rantai perekrutan anggota baru dari kalangan anak muda, sambil menangani anggota lama.

Slogan character building yang pernah digembar-gemborkan di dunia pendidikan perlu dikuatkan lagi. Slogan tersebut sesuai dengan konsep revolusi mental yang dicetuskan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Dalam konteks pemberantasan gerakan terorisme, maka slogan itu diarahkan untuk membentuk pribadi sesuai pribadi Nabi, yang menjadi panutan ummat muslim. Yakni, pribadi yang memiliki sifat shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Siddiq artinya benar. Mengajarkan agar selalu berkata benar dan berbuat benar. Disampaikan, benar selalu membawa kedamaian, bukan malah kehancuran dan ketakutan. Bertindak benar karena memiliki beban sebagai pribadi yang amanah.

Fathonah berarti cerdas. Cerdas berdakwah, tidak malah merusak citra Islam dengan aksi-aksi kerusakan. Sedang Tabligh berarti menyampaikan. Cara diplomasi telah diajarkan dalam Islam sejak dulu. Sehingga, sulit dibenarkan bila cara kerusakan ditempuh, apalagi di negeri ini tidak terjadi perang yang mengharuskan jihad.

Dengan rumusan itu, lembaga pendidikan tidak hanya melahirkan produk pribadi yang pintar tetapi juga berkarakter dan berkepribadian. Kedua sisi tersebut dikembangkan beriringan dan saling melengkapi, sehingga bisa melahirkan pribadi insani. Produk pribadi seperti ini akan sulit dirayu dan diajak melakukan kerusakan, karena mereka sudah tahu inti ajaran Islam, termasuk konsep jihad yang selama ini dijadikan payung hukum gerakan terorisme.

Nah, di sinilah negara melalui BNPT perlu masuk ke lembaga pendidikan karena darurat terorisme. Caranya memang tidak bisa setengah-setengah, sehingga perlu terobosan termasuk bila perlu melakukan revolusi mental seperti yang dicetuskan Jokowi untuk membentuk karakter pribadi insani. (*)



Editor : Admin Jatim

Opini Terkait

Character Building dan Terorisme

Senin, 17 April 2017, 09:00

Roudlon, S.Ag (Guru MAN Lamongan) Dalam beberapa hari terakhir, tanah air kembali dihebohkan kasus terorisme. Tiga teroris diamankan di Lamongan, kemudian segerombolan teroris yang diduga ingin bal...

Urgensi Pendidikan Karakter di Tengah Ancaman Hoax

Rabu, 12 April 2017, 15:34

Roudlon, S.Ag (Guru MAN Lamongan) Persoalan hoax tidak bisa dianggap remeh. Sama seperti negara  lain, negeri Indonesia kini juga tengah resah dilanda bayang-bayang virus hoax yang terus mengan...