logo

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA KANTOR WILAYAH PROVINSI JAWA TIMUR

Jalan Raya Bandara Juanda No.26, Telp. (031) 8686014, E-mail : kanwiljatim@kemenag.go.id

Selamat Datang di Situs Web Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Jalan Raya Bandara Juanda Nomer 26 Sidoarjo Jawa Timur Telepon 031-8686014, Nikah di KUA GRATIS, di Luar KUA Membayar Rp 600 ribu, Disetorkan Langsung ke Bank, ZONA INTEGRITAS KUA, Tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan Jika Terbukti!. Anda ingin Umrah? Pastikan 5!!! Pasti Travelnya, Pasti Jadwalnya, Pasti Terbangnya, Pasti Hotelnya, Pasti Visanya.

MENGIKIS BIBIT RADIKALISME

Selasa, 21 Februari 2017, 14:09

Oleh : Ifrotul Hidayah,S.Ag,MA

(Penyuluh Madya Kankemenag Kabupaten Ponorogo)

 

Mencermati perkembangan karakter masyarakat Indonesia yang katanya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi berkarakter radikal pada saat ini yang muncul (yang katanya) akibat didikan dari pegiat aliran/sempalan tertentu, faham keagamaan atau organisasi yang dibungkus dengan aktifitas yang bernuansa agama, tentunya  menimbulkan banyak pertanyaan di benak kita. Apakah nilai luhur yang telah lama terukir dalam jiwa rakyat Indonesia yang di kenal punya adat ketimuran yang santun dan beradab penuh etika dan tatakrama telah luntur atau lenyap sama sekali. Trus yang terjadi banyak menyalahkan proses pendidikan anak bangsa atau juga pada mencari pembenaran diri pada masing masing institusi entah itu keluarga, lembaga, organisasi bahkan pemerintah. Pertanyaan pun menjadi meluas kalo sandarannya keluarga ya keluarga yang mana, bila sandarannya lembaga, maka lembaga yang mana, jika sandarannya organisasi ,terjadi pertanyaan organisasi apa atau mana, dan kalau sandarannya pemerintah, maka akan di kejar pemerintah yang mana atau siapa. Alih alih semua menjadi bunder seperti main bola yang lari kesana dan kemari. Ini masih pandangan satu sisi saja tentang out put dari salah satu didikan institusi saja.

Untuk pengetahuan saja bahwa istilah “Radikalisme” (dari bahasa Latin radix yang berarti “akar”) adalah istilah yang digunakan pada akhir abad ke-18 untuk pendukung Gerakan Radikal. Dalam sejarah, gerakan yang dimulai di Britania Raya ini meminta reformasi sistem pemilihan secara radikal. Gerakan ini awalnya menyatakan dirinya sebagai partai kiri jauh yang menentang partai kanan jauh. Begitu “radikalisme” historis mulai terserap dalam perkembangan liberalisme politik, pada abad ke-19 makna istilah radikal di Britania Raya dan Eropa daratan berubah menjadi ideologi liberal yang progresif . Jadi asal muasal tindakan radikal muncul dari salah satu aliran politik bukan dari ajaran agama tertentu. Dengan kata lain dapat pula kita nyatakan bahwa gerakan radikal tidak bersumber dari ajaran agama. Namun bisa saja terjadi kesalah pahaman dalam agama menimbulkan gerakan radikal.

Awal mula tumbuh  frame radikalisme, bisa dari hubungan perorangan atau kelompok yang kurang harmonis antar mereka. Adakalanya suatu kelompok akan menuduh kelompok lain sebagai kelompok radikal. Namun belum ada standar yang jelas dalam penilaian kapan suatu kelompok atau pribadi tertentu disebut sebagai orang atau kelompok yang berpaham radikal. Selama ini wewenang penilaian selalu diserahkan pada presepsi media masa atau pengaruh kekuatan politik. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan membaca sejarah radikalisme dari masa ke masa.

Bila di analisa bahwa tuduhan radikalisme untuk umat Islam baru dikenal beberapa tahun belakangan ini. Diawali sejak perang dingin antara dua negara adikuasa berakhir, setelah kalahnya adikuasa Uni sovyet dalam melawan Afganistan. Lalu negara-negara Islam yang barada dalam cengkraman negara tersebut berusaha melepaskan diri. Kemudian lebih mengemuka lagi setelah kejadian 11 september di Amerika Serikat th 2001.

 

Coba kita lihat sejarah Islam, dalam literature Islam, radikalisme sudah mulai ada sejak diutusnya Rasul pertama Nuh Alaihissallam , dimana kaum nya tidak segan-segan mengejek dan menghina Nabi Nuh Alaihissallam untuk mempertahankan keyakinan yg mereka anut. Kemudian berlanjut sesuai dengan perjalanan waktu sampai pada masa Nabi Ibrâhîm Alaiihssallam, dimana beliau mengalami penyiksaan dari kekuatan politik Namrud yang Radikal. Selanjutnya nabi Musa Alaihissallam, bagaimana pula beliau bersama bani Israil mengalami berbagai penyiksaan dan pembunuhan dari kekuatan politik yang radikal dibawah pinpinan Fir’aun. Bahkan Fir’aun dan kaumnya menuduh Nabi Musa Alaihissallam sebagai orang yang berbuat kerusakan di muka bumi. Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam al-Qur’an :

Masyarakat dari kaum Fir’aun berkata, “Apakah engkau ingin membiarkan Musa berbuat kerusakan di muka bumi ini? Dan ia meninggalkan kamu dan sesembahanmu.” Fir’aun menjawab, “Kita akan bunuh anak-anaak mereka yang laki-laki dan membiarkan anak-anak perempuan mereka. Dan sesungguhnya kita orang-orang yang berkuasa di atas mereka. [Al-A’râf/7:128]

Demikian pula radikalisme yang dilakukan oleh umat Yahudi terhadap Nabi Isa Alaihissallam. Hal yang sama, bahkan lebih dari itu yang dialami oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para Shahabat Beliau Radhiyallahu anhum di kota Mekah. Mereka ditindas, disiksa, bahkan dibunuh.

Di zaman era globalisasi betapa banyak tindakan politik radikal yang telah membunuh ratusan juta jiwa dan membinaskan harta-benda, seperti Afganistan, Iraq, Iran, Libia, Suria dan Yaman serta pembunuhan yang terjadi di bumi Palestina yang tidak pernah dipandang oleh dunia sebagai tindakan radikal.

Maka inti dari permasalahan Radikalisme adalah ketika menilai pelaku tindak radikal yang terorganisir sebagai gerakan anti radikalisme, pada hal sejatinya mereka yang lebih pantas untuk disebut sebagai kaum radikal.

Nah sekarang mari kita lihat potensi wilayah Kabupaten Ponorogo dari sisi tumbuh kembangnya institusi keagamaan. Apakah bisa dikategorikan tempat atau masyarakat yang mudah dan bisa tumbuh karakter radikal. Apakah ada pengaruh antara lembaga /organisasi dan ummat yang mengikutinya terhadap timbulnya karakter radikal. Berikut data lembaga dakwah /organisasi keagamaan yang masuk dalam FKLD (Forum Komunikasi Lembaga Dakwah) di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo :

1.      NAHDLATUL ULAMA CABANG

2.      MUHAMMADIYAH DAERAH

3.      MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)

4.      LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA(LDII)

5.      HISBUT TAHRIR INDONESIA (HTI)

6.      PERSEKUTUAN IMAN TAUHID INDONESIA (PITI)

7.      DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH INDONESIA(DDII)

8.      DEWAN MASJID INDONESIA (DMI)

9.      HIDAYATULLOH

10.  MUSLIMAT CABANG

11.  AISYIYAH DAERAH

12.  SALIMAH

13.  WANITA ISLAM DAERAH

14.  GERAKAN PEMUDA ANSHOR CABANG

15.  PEMUDA MUHAMMADIYAH DAERAH

16.  FATAYAT NAHDLOTUL ULAMA

17.  NASYIATUL AISYIYAH DAERAH

18.  PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA(PMII)

19.  IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH CABANG(IMM)

20.  HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM CABANG (HMI)

21.  IKATAN PELAJAR NAHDLOTUL ULAMA(IPNU)

22.  IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLOTUL ULAMA(IPPNU)

23.  IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH DAERAH(IPM)

24.  PELAJAR ISLAM INDONESIA(PII)

25.  FORUM KOMUNIKASI LEMBAGA DAKWAH KABUPATEN(FKLD)

26.  LEMBAGA DAKWAH NAHDLATUL ULAMA CABANG

27.  MAJLIS TABLIGH DAN DAKWAH KHUSUS DAERAH

28.  MAJELIS MUJAHIDIN INDONESIA(MMI)

29.  BINA MUWAHHIDIN

30.  IKATAN DA’I INDONESIA

31.  JAMA'AH TABLIGH /JAHULA

32.  IKATAN PERSAUDARAAN HAJI INDONESIA(IPHI)

33.  JAMA'AH  WAHIDIYAH KABUPATEN

34.  YAYASAN PERJUANGAN WAHIDIYAH DAN PONDOK PESANTREN KEDUNGLO KABUPATEN

35.  THORIQOH NAQSYABANDIYAH KHOLIDIYAH CABANG

36.  THORIQOH QODIRIYAH WANNAQSYABANDIYAH DAERAH

37.  JAMA'AH ALKHIDMAH

38.  SALAFY

39.  MAJLIS TAFSIR ALQURAN (MTA)

40.  SYARIKAT ISLAM

41.  BADAN KONTAK MAJELIS TAKLIM (BKMT)

42.  AMTI (ASOSIASI/IKATAN MAJLIS TAKLIM INDONESIA)

Dari data Bimas Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo dapat dilihat begitu banyak dan beragam potensi lembaga agama dan lembaga dakwah yang ada di wilayah Ponorogo. Data tersebut adalah data yang terbaca artinya ada koordinasi aktif dari pihak lembaga dan instansi Kementerian Agama. Tentunya masih ada data yang tidak terbaca / tidak ada komunikasi atau belum sempat terkomunikasikan. Sejauh ini bila ada masalah atau kasus keagamaan yang timbul dan memerlukan fasilitasi Kementerian Agama, masih bisa diselesaikan dengan baik. Dalam tata aturan organisasi dan kelembagaan agama sudah ditetapkan aturan baku yang harus ditaati oleh lembaga keagamaan / lembaga dakwah dalam memainkan peran keummatan di wilayah masing masing atau di jamaah masing masing.Tentu satu kata kunci yang perlu di tekankan pada para tokoh lembaga dan organisasi ini adalah batasan berdakwah pada institusi masing masing dan saling menghargai dan menghormati antar lembaga/organisasi. Dari sini peran para tokoh agama ,Penyuluh Agama Islam, juru dakwah (da’i daiyah) diharapkan  mampu mendorong terciptanya kondisi yang kondusif dalam memantau  denyut keagamaan di wilayah Ponorogo sekaligus membina para jama’ahnya.

Berikut hal-hal yang bisa mengikis tumbuhnya radikalisme pada perorangan atau kelompok :

  1. Jangan mengejek atau mengolok olok perilaku ubudiyyah seseorang/kelompok/organisasi lain / yang tidak sefaham dengannya
  2. Menegakkan nilai keadilan
  3. Menanamkan akidah secara benar
  4. Mempelajari ajaran agama pada ahlinya
  5. Kerjasama dan komunikasi yang baik antara ulama dan umaro’
  6. Jangan mengklaim paling benar sendiri
  7. Menumbuhkan rasa empati
  8. Saling menghargai antar sesama / antar organisasi

Itu adalah hal-hal yang bisa dilakukan bersama untuk meminimalisir timbulnnya tindakan radikal pada diri dan lingkungan kita masing-masing. Perilaku dan sikap kedewasaan sangat perlu di tumbuhkembangkan pada pribadi masing masing , apalagi bagi yang berperan sebagai pribadi yang di tokohkan oleh masyarakat lingkungannya. Sikap dan sifat temperamental yang mudah emosi dan provokatif lebih baik dihindari agar tidak memicu situasi chaos. Apalagi dengan melihat potensi lembaga dakwah di Ponoroga yang begitu banyak, bila masing masing melaksanakan perannya dalam membina ummat dan jamaahnya secara baik dan benar dan saling menghargai antar institusi maka mampu tercipta masyarakat yang menjunjung nilai religious dan cinta damai. Terakhir harapan kita untuk terciptanya  Islam yang rahmatan lil alamin akan benar benar terwujud. Aamiin….Allohu mujibassailin.



Editor : Admin Jatim

Opini Terkait

MENGIKIS BIBIT RADIKALISME

Selasa, 21 Februari 2017, 14:09

Oleh : Ifrotul Hidayah,S.Ag,MA (Penyuluh Madya Kankemenag Kabupaten Ponorogo)   Mencermati perkembangan karakter masyarakat Indonesia yang katanya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi...