logo

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA KANTOR WILAYAH PROVINSI JAWA TIMUR

Jalan Raya Bandara Juanda No.26, Telp. (031) 8686014, E-mail : kanwiljatim@kemenag.go.id

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H/2017 M, Mohon Maaf Lahir dan Batin, Selamat Datang di Situs Web Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Jalan Raya Bandara Juanda Nomer 26 Sidoarjo Jawa Timur Telepon 031-8686014, Nikah di KUA GRATIS, di Luar KUA Membayar Rp 600 ribu, Disetorkan Langsung ke Bank, ZONA INTEGRITAS KUA, Tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan Jika Terbukti!

KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DAN RESOLUSI KONFLIK

Kamis, 20 Oktober 2016, 10:39

Oleh: A. Wahid Evendi, M.Ag

Kasi Penyuluh Agama Islam Bidang Penais Zawa

 

Pokok Pikiran

Sidoarjo merupakan wilayah yang memiliki kemajemukan di lihat dari penganut agama. Semua agama yang diakui oleh Pemerintah: Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghuchu, sepintas, umat beragama di daerah ini terkesan bias hidup rukun dan saling menghormati, namun dari hasil pengamatan ditemukan bahwa kerukunan umat beragama didaerah ini masik tetap emmpunyai potensi konflik walaupun tidak begitu besar.

Ketegangan dan konflik yang ada selama ini dapat diselesaikan dengan  berbagai cara, baik melalui peran Negara atau didiamkan mengikuti struktur social secara alamiah. Oleh karena itu peran Negara tetap diperlukan sebagai fasilitator, juga regulator. Kehidupan di daerah ini tidak dapat diserahkan secara bebas demi kepentingan hak asasi yang masih interpretable dan penuh dengan kepentingan baik itu politik, ekonomi dan lain-lain, ditambah lagi Sidoarjo sebagai kota penyanggah metropolis Surabaya.

Pendahuluan

Ke-binneka-an baik bedrsifat vertical maupun horizontal merupakan hokum alam didalam kehidupan masyarakat. Beragam budaya, Agama ,etnis golongan dan perbedaan lainnya merupakan kenyataan yang tidak bias di pungkuri dalam kehidupan di masyarakat.Setiap agama mengajarkan kemanusiaan (humanity values) seperti berbuat kebajikan,menjaga kesucian,memanusiakan manusia ,dsb.Terlebih Agama yang memiliki kesamaan nenek moyang seperti Islam,Kristen dan yahudi ,yang sering di sebutdengan abrahamics religions-agama dari keturunan Nabi Ibrohim.Azyumardi Azra menyebutnya dengan istilah ‘siblingsa’-ketiganya diatas memiliki hubungan kakak beradik. 

Namun, kerukunan dan kedamean dalam masyarakat yang majmuk itu menjadi ‘barang mahal’ untuk di dapatkan .sangat sedikit dari masyarakat yang bisa saling menghargai ,menghormati ,hidup dengan menjujunjung tinggi persaudaraan .rasa kasih saying dsb.Olehkarna itu persolalan kerukunan bukan semata mata persoalan doktorn agama semata tetapi juga persoalan  sosiologis yang menyangkut struktur social di masyarakat,secara formal mungkin masyarakat bisa menunjukan adanya kerukunan tersebut ,tetpi sebenarnya banyak pola kerukunan semu,seperti “Main judi” Kelihataanya rukun, tetapi riilnya saling menjegal, medncari kelemahan orang lain; atau golongan lain untuk mendapatkan kemenagan pribadi atau golongan.

Kerangka Empiris Kerukunan dan Resolusi  Konflik.

Upaya dialog antar ummat beragama selama ini juga banyak dinilai cenderung elitis. Hal itu bisa dilihat dari minimnya keterlibatan masyarakat akar rumput (grass root) dalam dialog tersebut. Kegiatan dialog agama juga cenderung banyak bicara teologis normative. Sehingga bukan pemecahan problem social yang dihasilkan, tetapi banyak debat doktrin-doktrin yang dihasilkan, akibatnya pada tataran praktis belum banyak menghasilkan banyak manfaat yang dihasilkan masyarakat. Para tokoh agama mungkin sering bertemu, tetapi bukan untuk membahas soal kerukunan umat beragama, melainkan membahas hal-hal yang bersifat politis, ekonomi, dsb. Di samping itu pemerintah sudah sering mengadakan dialog antara umat beragama hanya tampaknya kurang menyentuh akar persoalan yang berkembang di masyarakat. Untuk itu dialog lintas agama tidak boleh kehilangan ruhnya dan tidak ceremonial belaka yang kelihatan kering dan membosankan, tetapi benar-benar menyentuh akan persoalan yang ada, seperti: saling menghormati, berinteraksi, toleransi, dsb. Sehingga dialog antar iman itu benar-benar mempunyai makna dan nilai mendasar bagi terwujudnya Tri Kerukunan (kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antara Pemerintah dan umat beragama).

Bila ditelusuri pada akhir-akhir ini, di Sidoarjo belum terdengar adanya konflik terbuka yang muncul ke permukaan, karena masyarakat Sidoarjo dikenal dengan masyarakat Pancasilais yang religius, perbedaan etnis, agama, partai, golongan dsb tidak menghalangi untuk mewujudkan kerukunan dan perdamaian di tengah masyarakat. Namun demikian, apakah berarti bahwa di Sidoarjo ini tidak ada konflik, ketegangan atau gesekan antar umat beragama? Setiap masyarakat manapun mempunyai potensi untuk berkonflik, tetapi konflik itu ada yang bersifat destruktif dan ada yang bersifat fungsional. Keragaman yang dikelola dengan baik dapat menjadi modal social untuk membangun daerah atau bangsa, tetapi jika tidak mampu mengelolanya, akan menjadi ancaman yang menakutkan keutuhan masyarakat. Dengan demikian prasangka keagamaan perlu diarahkan pada prasangka- prasangka yang kondusif.

Dari telaah hal-hal yang bersifat empiris ddi atas muncul rumusan pertanyaan: (1) Bagaimana pandangan masyarakat tentang hidup bersama secara rukun, dan pola kerukunan seperti apa yang dikembangkan oleh masyarakat? (2) Bagaimana komunikasi dan interaksi yang dilakukan antar agama dan wadah seperti apa yang digunakan untuk proses interaksi itu.

Pola Kerukunan

Umat beragama diharapkan sering berinteraksi dalam kegiatan social antar umat beragama secara wajar supaya melakukan kegiatan social sebagaimana hal itu merupakan kebutuhan masyarakat. Hidup dalam suasana gotong royong merupakan suatu keharusan walaupun berbeda agama. Ketika ada yang meninggal atau kesusahan kita tetap datang membantu kebutuhan yang mereka perlukan tanpa membedakan agama, hanya ketika urusan do’a, hal itu diserahkan pada urusan agama masing-masing. Sehingga pluralisme akan dapat terwujud yang di dalamnya terdapat pertalian sejati ke-binneka-an dalan ikatan-ikatan keadaban.

Pendekatan institusi untuk mewujudkan kerukunan umat beragama di kab. Sidoarjo walaupun sudah ada dan berjalan dengan baik tampaknya masih perlu ditingkatkan. Seperti FKUB, MUI, PGI, WALUBI, dsb diharapkan mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat lebih luas jangkauannya dan lebih menyentuh kelompok akan rumput serta cenderung kea rah elitis. Bahkan bila perlu masyarakat diberikan pemahaman ajaran agama-agama untuk menghindari ketidakpahaman beragama yang sering menimbulkan konflik seperti di daerah-daerah lain.

Resolusi Konflik

Harmoni antar umat beragama di Sidoarjo tampaknya memiliki kaitan erat dengan kebudayaan Jawa dan pesisir yang sangat mencintai hidup secara harmoni. Semua agama yang berkembang di Sidoarjo tidak dapat meninggalkan tradisi Jawa dan pesisir. Masing-masing agama berdialog dengan tradisi yang ada. Bahkan  toleransi dan harmoni itu bukan hanya warisan budaya Jawa, tetapi Asia Tenggara pada umumnya. Musyawarah mufakat tampaknya penting dalam budaya bagi masyarakat sekitar kita. Meskipun ada yang memberikan penilaian bahwa hal itu merupakan ‘mitos’ atau cara agama pendatang untuk menyesuaikan diri dengan sikap dan prilaku tradisional.

Pola penyelesaikan ketegangan dengan cara ‘penyesuaian’ sangat umum ditemukan di Sidoarjo. Masyarakat Sidoarjo berusaha berhati-hati dalam menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga agar tidak terjadi ketegangan atau konflik. Jikalau terjadi gesekan atau konflik tidak segera diselesaikan dengan bijak, maka akan menjadi sumber masalah.

Kesimpulan

Kerukunan umat beragama di Indonesia tampaknya masih menjadi ‘persoalan serius’ di masyarakat. Masyarakat agama di Sidoarjo walaupun terlihat rukun dan damai tetap mempunyai potensi konflik. Gesekan antar umat beragama masih tetap terjadi. Keteganagan mungkin dapat ditimbulkan dari kesalahpahaman, kepentingan dan idiologi. Kasalah pahaman mungkin terjadi karena adanya prasangka keagamaan. Dan pemerintah masih sangat diperlukan untuk terlibat dalam kerukunan umat beragama. Bangsa ini masih dalam proses menuju dewasa untuk hidup secara damai.



Editor : Admin Jatim

Opini Terkait

KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DAN RESOLUSI KONFLIK

Kamis, 20 Oktober 2016, 10:39

Oleh: A. Wahid Evendi, M.Ag Kasi Penyuluh Agama Islam Bidang Penais Zawa   Pokok Pikiran Sidoarjo merupakan wilayah yang memiliki kemajemukan di lihat dari penganut agama. Semua agama yang di...

PANCARKAN ENERGI POSITIF PERILAKU DAN HATI EMAS NABI MUHAMMAD SAW, WUJUDKAN MANUSIA BERKUALITAS DI MUKA BUMI

Rabu, 19 Oktober 2016, 08:56

Oleh: DR. H. AW Evendi  Anwar, M.Ag Dosen PPs Unsuri Surabaya dan Kasi Penerangan Dan Penyuluhan Agama Islam Perilaku  seseorang  merupakan  barometer  akal  dan  ...

ZAKAT, MEMUPUK SOLIDARITAS SOSIAL

Rabu, 19 Oktober 2016, 09:06

Oleh :  Wakid Evendi, M.Ag Penulis adalah Kasi Penyuluh Agama Islam bidang Penais Zawa pada Kanwil Kemenag Provinsi Jatim Harta yang dibagi-bagikan itu namanya zakat. Sedangkan kata ‘zaka...