logo

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA KANTOR WILAYAH PROVINSI JAWA TIMUR

Jalan Raya Bandara Juanda No.26, Telp. (031) 8686014, E-mail : kanwiljatim@kemenag.go.id

Mohon Maaf dengan ketidaknyamanan saat ini, Website Sedang Proses Migrasi dan update . Terima Kasih

ZAKAT, MEMUPUK SOLIDARITAS SOSIAL

Rabu, 19 Oktober 2016, 09:06

Oleh :  Wakid Evendi, M.Ag

Penulis adalah Kasi Penyuluh Agama Islam bidang Penais Zawa pada Kanwil Kemenag Provinsi Jatim

Harta yang dibagi-bagikan itu namanya zakat. Sedangkan kata ‘zakat’ mengandung arti “mensucikan, bertambah suci dan berubah”. Karena dengan dikeluarkan zakatnya itu diharapkan diri dan kekayaan menjadi suci, bertambah dan barokah (ziyadat al-rizq). Allah SWT menempatkan Zakat sebagai salah satu tiang penyangga tegak tidaknya nilai-nilai keislaman dalam diri seseorang. Karena Islam itu dibangun di atas lima pondasi, sebagaimana Sabda Rasullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim:

“Islam dibangun atas lima hal: kesaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwasannya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Menegakkan sholat, Menunaikan zakat, Haji, dan puasa ramadhan.” (HR. Imam Bukhori dan Muslim)

Itu berarti jika ada orang yang semestinya telah telah memenuhi syarat rukunnya untuk menunaikan zakat, namun mereka enggan atau membangkang membayar zakat, maka orang tersebut dengan  sengaja telah merobohkan sendi keislaman di dalam dirinya. Bahkan Allah SWT memberikan ancaman yang keras terhadap orang yang enggan menunaikan zakat dalam QS. Ali Imran (3): 180, yaitu:

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat”.

Ayat di atas menunjukkan bahwa keengganan menunaikan zakat tidak ada keuntungan sedikitpun. Bahkan orang yang enggan berzakat akan merasakan penderitaan hidup di dunia dan akhirat. Di dunia, barokah rizqi yang telah diterimanya akan dicabut Allah SWT. dan di akhirat ia mendapatkan siksa yang pedih. Dan Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, telah bersabda:

“Tidak ada orang yang mempunyai simpanan kekayaan yang enggan menunaikan zakatnya, kecuali kekayaan itu dibakar di api neraka jahannam yang kemudian dijadikan kepingan-kepingan guna menyetrika kedua lambung dan dahinya sampai Allah menghukum di antara hamba-hamba-Nya pada hari kiamat yang lamanya diperkirakan lima puluh ribu tahun kemudian akan diketahui nasibnya, apakan ia masuk surga ataukah ke neraka?

Ancaman Allah SWT dan Rasulullah SAW begitu besar dan mengerikan bagi siapa pun yang enggan menunaikan zakat hartanya. Dan yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah mengapa Allah dan Rasul-Nya begitu sengit kepada orang yang enggan menunaikan zakat dengan memberikan memberikan ancaman yang demikian itu?  Bukankah Allah Azza wa Jalla sudah tidak memerlukan apa pun dari makhluk-Nya, karena Allah sudah Maha Segala-galanya? Lantas apa urgensi  dari  zakat  itu? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang ada di benak kita.

Namun Paling tidak ada lima hikmah yang dapat kita renungkan bersama dari ditegakkan dan  disyari’atnya zakat kepada kita umat Islam:

Pertama, bahwa kekayaan adalah nikmat dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang harus disyukuri. Mensyukuri nikmat itu dapat dengan ucapan al-Hamdulillah dan dapat pula dengan menggunakan nikmat itu sesuai dengan perintah Allah. Membayar zakat adalah perintah Allah, maka menunaikan zakat itu berarti mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Nikmat yang disyukuri, dijanjikan oleh Allah akan ditambah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS.Ibrahim (14): 7,  yaitu:

“Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkarinya, maka sesungguhnya siksa-Ku sangat pedih.”

Hikmah yang Kedua, bahwa kekayaan yang dikumpulkan oleh seseorang, belum tentu dari hasil jerih payah dan keringat sendiri, tetapi kekayaan itu dapat juga dari hasil tenaga para buruh yang bekerja padanya. Meskipun mereka sudah mendapat upah sebagaimana mestinya, tetapi harta yang terkumpul masih terdapat kotoran dan perlu dibersihkan atau disucikan dengan dikeluarkan zakatnya. Kemudian diberikan kepada mereka yang berhak mendapat zakat, karena mereka tergolong fakir miskin. Allah SWT berfirman dalam QS. at-Taubah (9): 103, yaitu:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mesucikan mereka”

Adapun hikmah yang Ketiga, adalah bahwa manusia di dunia ini ditakdirkan oleh Allah SWT tidak sama keadaannya ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang kuat dan ada yang lemah. Ada yang pandai dan ada yang bodoh, ada yang berpangkat tinggi dan ada yang berpangkat rendah, dan begitulah selanjutnya. Oleh karena itu, manusia tidak dapat hidup sendiri, tetapi meraka harus bekerja sama, maka yang kuat harus menolong yang lemah, yang besar harus menolong yang kecil dan begitulah selanjutnya. Dan zakat adalah uluran tangan orang besar atau mampu kepada orang lemah atau miskin.

Sedangkan hikmah yang Keempat, adalah bahwa zakat mendidik dan membiasakan orang menjadi dermawan. Tabiat manusia biasanya bersifat kikir. Agar tidak demikian ia diwajibkan menunaikan zakat sehingga akhirnya ia dapat memberikan sesuatu kepada orang lain yang artinya ia tidak kikir lagi.

Dan hikmah yang Kelima, adalah bahwa di antara pencuri atau perampok ada yang disebabkan karena kemiskinan. Sebagaimana sebuah qoul yang mengatakan: “kemiskinan hampir-hampir menjadikan orang menjadi kufur kepada kebenaran”. Keadaan yang serupa itu, jika mereka telah tertolong dengan adanya pembagian zakat, kiranya mereka tidak akan mencuri atau merampok lagi. Dengan demikian pembagian zakat itu termasuk pengamanan stabilitas hidup dan kehidupan. 

Selain itu, zakat yang kita tunaikan akan dapat menumbuhsuburkan pahala; memberi berkah kepada kepada harta yang tinggal (setelah dizakati); menjadi sebab bertambahnya  rizki;  pertolongan dan inayah Allah SWT; menjauhkan diri dari api neraka dan melepaskannya dari kepicikan dunia dan akhirat; mendatangkan keberkatan dan kemashatan kepada masyarakat; menumbuhkan kerukunan dan membuahkan kasih sayang; dan mengembangkan rasa tanggung jawab dan menghasilkan uswatun hasanah. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berusaha memupuk sikap solidaritas kita kepada sesama yang lemah, yang miskin dan yang keberuntungannya berada di bawah kita dengan kita tunaikan zakat harta kita, atau pun dengan kita keluarkan infaq dan shodaqohnya, agar jiwa dan harta kita benar-benar bersih dan suci serta berbarokah bagi diri dan keluarga kita.

Akhirnya, marilah kita berdo’a kepada Allah SWT mudah-mudahan kita diberi kekuatan lahir dan batin, diberi petunjuk dan bimbingan sehingga kita semua dapat menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. Dan memiliki kesadaran untuk tetap memperhatikan hak-hak harta kita untuk dikeluarkan zakatnya. Amin…



Editor : Admin Jatim

Opini Terkait

KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DAN RESOLUSI KONFLIK

Kamis, 20 Oktober 2016, 10:39

Oleh: A. Wahid Evendi, M.Ag Kasi Penyuluh Agama Islam Bidang Penais Zawa   Pokok Pikiran Sidoarjo merupakan wilayah yang memiliki kemajemukan di lihat dari penganut agama. Semua agama yang di...

PANCARKAN ENERGI POSITIF PERILAKU DAN HATI EMAS NABI MUHAMMAD SAW, WUJUDKAN MANUSIA BERKUALITAS DI MUKA BUMI

Rabu, 19 Oktober 2016, 08:56

Oleh: DR. H. AW Evendi  Anwar, M.Ag Dosen PPs Unsuri Surabaya dan Kasi Penerangan Dan Penyuluhan Agama Islam Perilaku  seseorang  merupakan  barometer  akal  dan  ...

ZAKAT, MEMUPUK SOLIDARITAS SOSIAL

Rabu, 19 Oktober 2016, 09:06

Oleh :  Wakid Evendi, M.Ag Penulis adalah Kasi Penyuluh Agama Islam bidang Penais Zawa pada Kanwil Kemenag Provinsi Jatim Harta yang dibagi-bagikan itu namanya zakat. Sedangkan kata ‘zaka...