Rabu, 19 Oktober 2016, 08:56

PANCARKAN ENERGI POSITIF PERILAKU DAN HATI EMAS NABI MUHAMMAD SAW, WUJUDKAN MANUSIA BERKUALITAS DI MUKA BUMI

Oleh: DR. H. AW Evendi Anwar, M.Ag

Dosen PPs Unsuri Surabaya dan Kasi Penerangan Dan Penyuluhan Agama Islam

Perilaku seseorang merupakan barometer akal dan kunci untuk mengenal hati nuraninya. Hiruk pikuk gejolak prilaku manusia saat membuat hati semakin miris dan pedih. Saling mendendam, mendengki dan mencaci serta memaki menjadi hiasan yang lumrah di berbagai pelosok negeri ini, baik di dunia nyata maupun maya setta berbagai media lainnya. Mulai kaum memiliki derajat dunia yang elit sampai kaum yang benar-benar hidupnya sulit. Oleh karena itu, melalui tulisan singkat ini, kita ungkapkan hasanah Mengenal sifat dan budi Pekerti Nabi Muhamad SAW sebagai wujud pancaran energi positif beliau sebagai manusia yang berhati emas.

Aisyah ra adalah orang yang paling dekat dengan beliau baik saat tidur maupun terjaga, pada saat sakit maupun sehat, pada saat marah maupun ridha. Dalam suatu Hadits sebagai kesaksian Aisyah ra sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ia menuturkan bahwa:

"Rasulullah SAW bukanlah seorang yang keji dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan." (HR. Ahmad).

Demikian pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Al-Husein cucu beliau menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang adab dan etika Rasulullah SAW terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, ayahku menuturkan:

Beliau SAW senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapkanya pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas. Beliau meninggalkan tiga perkara: riya, berbangga-bangga diri dan hal yang tidak bermanfaat. Dan beliau menghindarkan diri dari manusia karena tiga perkara: beliau tidak suka mencela atau memaki orang lain, beliau tidak suka mencari-cari aib orang lain, dan beliau hanya berbicara untuk suatu maslahat yang bernilai pahala.

Jikalau beliau berbicara, pembicaraan beliau membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah membantah sabda beliau. Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara. Pembicaraan mereka di sisi beliau hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Beliau tertawa bila mereka tertawa. Beliau takjub bila mereka takjub, dan beliau bersabar menghadapi orang asing yang kasar ketika berbicara atau ketika bertanya sesuatu kepada beliau, sehingga para sahabat shallallahu 'alaihi wasallam selalu mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu guna memetik faedah.

Beliau bersabda: Bila engkau melihat seseorang yang sedang mencari kebutuhannya, maka bantulah dia. Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali menurut yang selayaknya. Beliau juga tidak mau memutuskan pembicaraan seeorang kecuali orang itu melanggar batas, beliau segera menghentikan pembicaraan tersebut dengan melarangnya atau berdiri meninggalkan majlis. (HR. At-Tirmidzi).

Demikian pula, keteladanan akhlak dan budi pekerti baginda Nabi SAW tentang cinta kasih dan persahabatan baik terhadap kawan maupun lawan tadi. Jikalau kita memegang teguh akhlak tersebut dan bersungguh-sungguh dalam meneladaninya, maka kita akan terhindar dari perbuatan tercela di dunia maupun di akhirat, sebab akhlak terpuji adalah kunci seluruh kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

Di antara petunjuk Rasulullah SAW yang lain adalah mengajarkan perkara agama kepada teman-teman duduknya, di antara yang beliau ajarkan adalah: Seorang muslim adalah yang kaum muslimin dapat terhindar dari gangguan lisan dan tangan-nya, seorang muhajir (yang berhijrah) adalah yang meninggalkan segala yang dilarang Allah. (Muttafaq alaih). Diriwayatkan juga dari beliau: Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah perkataaan yang belum jelas bermanfaat baginya sehingga membuat ia terperosok ke dalam api Neraka lebih jauh daripada jarak timur dan barat. (Muttafaq alaih).

Namun kenyataan saat ini, tidak sedikit paginya berteman, sore hari bermusuhan. Di depan menebar senyum, namun di belakang mencakar. Saling sikut terhadap teman demi kepentingan sesaat terjadi di mana-mana. Sehingga banyak orang mengeluh karena tidak dapat menemukan manusia yang berhati emas di sepanjang hidup mereka dan benar-benar merasa yakin bahwa manusia berhati emas dengan cinta dan persahabatan adalah hal yang mustahil untuk didapatkannya. Masyarakat saat ini tengah terdorong kembali ke tengah-tengah masyarakat jahiliah, yang tidak pernah meraih cinta dan persahabatan sejati, rasa kasih sayang yang diberikan satu sama lain sering kali karena dorongan kepentingan, nilai kesetiaannya pun berdasarkan kepentingan itu. Begitu mereka tidak lagi mendapatkan keuntungan-keuntungan duniawi, keakraban dianggap sebagai cinta atau persahabatan yang telah terjalin pun berakhir.

Oleh karena itu, aktualisasi keteladanan Baginda Nabi Muhammad SAW dalam mewujudkan manusia berhati emas sangat perlu untuk dimanifestasikan di tengah hiruk pikuk semangat hedonistik dan fragmatik, yang hanya mengejar kenikmatan dan keuntungan sesaat saat ini. Keyakinan sentralistik yang terpusat dengan meneladani apa yang disabdakan, dipikirkan dan dilakukan oleh Rasulullah SAW, akan membimbing manusia muslim, mukmin dan muttaqin dalam mewujudkan prilaku hidup mulia serta menjalaninya dengan makna yang sesungguhnya. Alasan utamanya, adalah karena Rasulullah SAW memberikan uswah dalam mencintai satu sama lain bagai satu bangunan yang kokoh, bukan karena mencari keuntungan, namun hanyalah semata-mata karena orang-orang yang mereka cintai itu adalah orang-orang yang memiliki iman yang tulus dan taat untuk mengharap ridla Allah SWT. Sehingga jika tidak didapatkan di dunia, mereka yakin pasti akan didapatkan di akhirat kelak. Apa yang membuat seseorang dicintai dan memiliki daya tarik untuk dijadikan teman adalah karena ketakwaannya kepada Allah, dan kesalehannya yang telah membuat seseorang hidup dengan nilai-nilai al-Quran secara cermat. Seseorang yang hidup dengan nilai-nilai al-Quran juga mengetahui karakteristik-karakteristik apa saja yang mesti dimilikinya agar dapat dijadikan sebagai seorang teman yang berharga, dan dia pun mengambil karakteristik-karakteristik ini sesempurna mungkin. Dan demikian pula, ia pun dapat mengapresiasi karakteristik-karakteristik yang dapat dikagumi pada orang lain dan dapat mencintai dengan sesungguhnya. Selama pemahaman mengenai suri tauladan dalam diri Rasullah itu ada, dan nilai-nilai Qurani menjiwai diri kita, kebahagiaan yang diperoleh dari cinta dan persahabatan tidak pernah hilang dan pudar selamanya.

Lebih jauh lagi, semakin orang itu memperlihatkan akhlak yang baik, kesenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati dari cinta dan persahabatan pun senantiasa meningkat. Tatkala mereka saling memperhatikan satu sama lain dengan iman dan nurani, ketulusan, ketakwaan kepada Allah serta kesalehan, maka gairah mereka pun semakin tumbuh subur.

Lebih jauh agar terbangkitkan cinta persahabatan sejati, Rasulullah SAW mengajarkan untuk selalu menebarkan salam. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud yang artinya:

Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, tidak akan masuk surga sebelum kamu semua beriman, tidak termasuk beriman kalian semua sebelum saling mencintai. Maukah kamu aku tunjukkan atas satu perkara, jika kalian melakukannya niscaya kalian semua akan saling mencintai, Tebarkan lah salam di antara kalian. Bahkan dalam shalat, yang diawali dengan takbir adalah merupakan simbol hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Sang Khaliq. Dan diakhiri dengan "salam", adalah merupakan simbol nyata dari kesalehan sosial. Kesalehan itu terpupuk bukan karena mereka dapat apa dari manusia lain, tetapi terpupuk akan memberi apa. Sehingga dalam ranah sosial, meskipun menebar salam itu hukumnya sunnah dan menjawabnya adalah wajib. Namun Rasulullah SAW tetap meninggikan derajat terhadap orang yang gemar menebarkan salam bukan yang menjawabnya.

Mudah-mudahan dengan sepenggal hazanah keteladanan Nabi Muhammad SAW ini dapat memberikan menjadi inspirasi dalam diri kita semua untuk dapat menghujamkan hati emas Rasulullah SAW dalam diri ini, hingga kita senantiasa dianugerahi Alla SWT fi al dunya hasanah wa fi al ahkirat al hasanah wa qina adzab al nar. Amin...

Berita Lainnya
Rabu, 19 Oktober 2016, 09:06

ZAKAT, MEMUPUK SOLIDARITAS SOSIAL