logo

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA KANTOR WILAYAH PROVINSI JAWA TIMUR

Jalan Raya Bandara Juanda No.26, Telp. (031) 8686014, E-mail : kanwiljatim@kemenag.go.id

Selamat Datang di Situs Web Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Jalan Raya Bandara Juanda Nomer 26 Sidoarjo Jawa Timur Telepon 031-8686014, Nikah di KUA GRATIS, di Luar KUA Membayar Rp 600 ribu, Disetorkan Langsung ke Bank, ZONA INTEGRITAS KUA, Tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan Jika Terbukti!. Anda ingin Umrah? Pastikan 5!!! Pasti Travelnya, Pasti Jadwalnya, Pasti Terbangnya, Pasti Hotelnya, Pasti Visanya.

PANCARKAN ENERGI POSITIF PERILAKU DAN HATI EMAS NABI MUHAMMAD SAW, WUJUDKAN MANUSIA BERKUALITAS DI MUKA BUMI

Rabu, 19 Oktober 2016, 08:56

Oleh: DR. H. AW Evendi  Anwar, M.Ag

Dosen PPs Unsuri Surabaya dan Kasi Penerangan Dan Penyuluhan Agama Islam

Perilaku  seseorang  merupakan  barometer  akal  dan  kunci  untuk  mengenal  hati  nuraninya. Hiruk pikuk gejolak prilaku manusia saat membuat hati semakin miris dan  pedih. Saling mendendam, mendengki dan mencaci  serta  memaki  menjadi hiasan yang lumrah di berbagai pelosok negeri ini, baik di dunia nyata  maupun maya setta berbagai  media lainnya. Mulai kaum memiliki derajat dunia yang  elit sampai kaum  yang benar-benar hidupnya sulit. Oleh karena itu, melalui tulisan singkat ini, kita ungkapkan  hasanah Mengenal  sifat dan budi Pekerti Nabi Muhamad SAW sebagai wujud pancaran energi positif beliau sebagai manusia yang berhati emas.

‘Aisyah  ra  adalah  orang  yang  paling  dekat  dengan  beliau  baik  saat  tidur  maupun  terjaga,  pada  saat  sakit  maupun   sehat, pada saat marah maupun ridha. Dalam suatu Hadits sebagai kesaksian Aisyah ra sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ia menuturkan bahwa:

"Rasulullah SAW bukanlah seorang yang keji dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak  di  pasar  dan  tidak  membalas  kejahatan  dengan  kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan." (HR. Ahmad).

Demikian pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi,  Al-Husein cucu beliau menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata: “Aku bertanya kepada ayahku tentang adab dan etika Rasulullah SAW terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, ayahku menuturkan:

“Beliau SAW senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah   seorang  yang  kasar,  tidak  suka  berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela  makanan yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapkanya pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi  undangannya  pasti  akan  senantiasa  puas.  Beliau  meninggalkan tiga perkara: “riya’, berbangga-bangga diri dan  hal  yang  tidak  bermanfaat. Dan  beliau  menghindarkan  diri  dari  manusia karena  tiga  perkara: “beliau  tidak  suka  mencela  atau  memaki  orang  lain, beliau  tidak  suka  mencari-cari  aib  orang  lain, dan  beliau  hanya  berbicara  untuk  suatu  maslahat  yang bernilai pahala.

Jikalau  beliau  berbicara,  pembicaraan beliau  membuat  teman-teman  duduknya  tertegun,  seakan-akan kepala  mereka  dihinggapi  burung  (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka  tidak  pernah  membantah  sabda  beliau.  Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara. Pembicaraan mereka di sisi beliau hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Beliau tertawa bila mereka tertawa. Beliau takjub bila mereka takjub, dan  beliau  bersabar menghadapi  orang  asing  yang  kasar  ketika  berbicara  atau  ketika bertanya  sesuatu  kepada  beliau, sehingga  para  sahabat  shallallahu 'alaihi wasallam  selalu mengharapkan  kedatangan  orang  asing  seperti itu  guna  memetik  faedah.

Beliau  bersabda:  “Bila  engkau  melihat  seseorang  yang  sedang  mencari  kebutuhannya,  maka bantulah  dia.  Beliau  tidak  mau  menerima  pujian  orang  kecuali  menurut  yang  selayaknya.  Beliau  juga tidak  mau memutuskan pembicaraan seeorang kecuali orang itu melanggar batas, beliau segera menghentikan pembicaraan tersebut dengan melarangnya atau berdiri meninggalkan majlis.” (HR. At-Tirmidzi).   

Demikian pula, keteladanan akhlak dan budi pekerti baginda Nabi SAW tentang cinta kasih dan  persahabatan  baik  terhadap kawan maupun lawan tadi. Jikalau kita memegang teguh akhlak tersebut dan bersungguh-sungguh  dalam meneladaninya, maka kita akan terhindar dari perbuatan tercela di dunia maupun di akhirat, sebab akhlak terpuji adalah kunci  seluruh  kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

Di antara petunjuk Rasulullah SAW yang  lain adalah mengajarkan perkara agama kepada teman-teman duduknya, di antara yang beliau ajarkan adalah: “Seorang muslim adalah yang kaum muslimin dapat terhindar dari gangguan lisan dan tangan-nya, seorang muhajir (yang berhijrah) adalah yang meninggalkan segala yang dilarang Allah.” (Muttafaq ‘alaih). Diriwayatkan juga dari beliau: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah perkataaan yang belum jelas bermanfaat baginya sehingga membuat ia terperosok ke dalam api Neraka lebih jauh daripada jarak timur dan barat.” (Muttafaq ‘alaih).

Namun kenyataan saat ini, tidak sedikit paginya berteman, sore hari bermusuhan. Di depan menebar senyum, namun di belakang  mencakar. Saling sikut terhadap teman demi kepentingan sesaat terjadi di mana-mana. Sehingga banyak  orang  mengeluh  karena tidak dapat menemukan manusia yang berhati emas di sepanjang hidup mereka dan benar-benar merasa yakin bahwa manusia berhati emas dengan cinta dan persahabatan  adalah hal yang mus­tahil untuk didapatkannya. Masyarakat saat ini tengah terdorong kembali ke tengah-tengah masyarakat jahiliah, yang tidak pernah meraih cinta dan persahabatan sejati,  rasa kasih sayang yang diberi­­kan satu sama lain sering kali   karena dorongan kepentingan, nilai kesetiaannya pun berdasarkan kepentingan itu. Begitu mereka tidak lagi mendapatkan  keuntungan-ke­un­tungan duniawi, keakraban dianggap sebagai cinta atau persahabatan yang telah  terjalin pun berakhir.

Oleh karena itu,  aktualisasi  keteladanan  Baginda Nabi Muhammad SAW dalam mewujudkan manusia berhati emas  sangat perlu untuk dimanifestasikan di tengah hiruk pikuk semangat hedonistik dan fragmatik, yang hanya mengejar kenikmatan dan keuntungan sesaat saat ini. Keyakinan sentralistik yang terpusat dengan meneladani apa yang disabdakan, dipikirkan dan dilakukan oleh Rasulullah SAW, akan membimbing  manusia  muslim,  mukmin dan  muttaqin  dalam  mewujudkan  prilaku hidup mulia  serta  menjalaninya  dengan makna   yang sesungguhnya.  Alasan  utamanya,  adalah  karena  Rasulullah SAW  memberikan  uswah  dalam  mencintai  satu  sama  lain bagai satu  bangunan  yang  kokoh, bukan karena  mencari  keuntungan,  namun  hanyalah  semata-mata  karena  orang-orang  yang  mereka  cintai  itu adalah  orang-orang  yang  memiliki  iman  yang  tulus  dan  taat untuk mengharap ridla Allah SWT.  Sehingga jika tidak didapatkan di dunia,   mereka yakin pasti akan didapatkan di akhirat kelak. Apa yang membuat seseorang  dicintai  dan  memiliki  daya   tarik  untuk dijadikan teman adalah  karena  ketakwaannya kepada Allah, dan  kesalehannya  yang  telah membuat sese­orang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an secara cermat. Seseorang yang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an  juga  mengetahui  karak­teristik-karakteristik  apa saja yang  mesti  dimi­likinya  agar  dapat  dijadikan sebagai seorang teman yang berharga, dan dia pun mengambil karakteristik-karakteristik ini sesempurna mungkin. Dan demikian pula, ia pun dapat mengapresiasi  karakteristik-karakteristik  yang  dapat  dikagumi  pada orang lain dan dapat mencintai dengan sesungguhnya. Selama pemahaman mengenai  suri tauladan  dalam diri Rasullah itu  ada, dan nilai-nilai Qur’ani menjiwai diri kita,  kebahagiaan  yang diperoleh dari cinta dan persahabatan tidak pernah hilang dan pudar selamanya.

Lebih jauh lagi, semakin orang itu memper­lihatkan akhlak yang baik, kesenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati dari cinta dan persahabatan pun senantiasa meningkat. Tatkala mereka saling memperhatikan satu sama lain dengan  iman dan nurani, ketulusan, ketakwaan kepada Allah serta kesalehan, maka gairah mereka pun semakin tumbuh subur.

Lebih jauh agar terbangkitkan cinta  persahabatan sejati, Rasulullah SAW mengajarkan untuk selalu menebarkan salam. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud yang artinya:

“Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, tidak akan masuk surga sebelum kamu semua beriman, tidak termasuk beriman kalian semua sebelum saling mencintai. Maukah kamu aku tunjukkan atas satu perkara, jika kalian melakukannya niscaya kalian semua akan saling mencintai, “Tebarkan lah salam di antara kalian”.   Bahkan dalam shalat, yang diawali dengan takbir adalah merupakan simbol hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Sang Khaliq. Dan diakhiri dengan "salam", adalah merupakan simbol nyata dari kesalehan sosial. Kesalehan itu terpupuk bukan karena mereka dapat apa dari manusia lain, tetapi terpupuk akan memberi apa. Sehingga dalam ranah sosial, meskipun menebar salam itu hukumnya sunnah dan menjawabnya adalah wajib. Namun Rasulullah SAW tetap meninggikan derajat terhadap orang yang gemar menebarkan salam bukan yang menjawabnya.

Mudah-mudahan dengan  sepenggal hazanah keteladanan  Nabi Muhammad SAW ini dapat memberikan menjadi  inspirasi  dalam  diri  kita  semua  untuk dapat menghujamkan hati emas Rasulullah SAW dalam diri ini, hingga kita senantiasa dianugerahi Alla SWT  fi al dunya hasanah wa fi al ahkirat al hasanah wa qina “adzab al nar. Amin...



Editor : Admin Jatim

Opini Terkait

KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DAN RESOLUSI KONFLIK

Kamis, 20 Oktober 2016, 10:39

Oleh: A. Wahid Evendi, M.Ag Kasi Penyuluh Agama Islam Bidang Penais Zawa   Pokok Pikiran Sidoarjo merupakan wilayah yang memiliki kemajemukan di lihat dari penganut agama. Semua agama yang di...

PANCARKAN ENERGI POSITIF PERILAKU DAN HATI EMAS NABI MUHAMMAD SAW, WUJUDKAN MANUSIA BERKUALITAS DI MUKA BUMI

Rabu, 19 Oktober 2016, 08:56

Oleh: DR. H. AW Evendi  Anwar, M.Ag Dosen PPs Unsuri Surabaya dan Kasi Penerangan Dan Penyuluhan Agama Islam Perilaku  seseorang  merupakan  barometer  akal  dan  ...

ZAKAT, MEMUPUK SOLIDARITAS SOSIAL

Rabu, 19 Oktober 2016, 09:06

Oleh :  Wakid Evendi, M.Ag Penulis adalah Kasi Penyuluh Agama Islam bidang Penais Zawa pada Kanwil Kemenag Provinsi Jatim Harta yang dibagi-bagikan itu namanya zakat. Sedangkan kata ‘zaka...