Kakanwil Ingatkan ASN Tangkal Hoax dalam Penguatan Moderasi Beragama di Kemenag Jember



Kab. Jember (Humas) –  Melanjutkan agenda kegiatannya di Kabupaten Jember,  Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Husnul Maram menghadiri  Penguatan Moderasi Beragama bagi Penyuluh Agama Islam di Hotel Luminor Jember pada Selasa (24/5). Hadir pula dalam kegiatan ini,  Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Jember beserta jajarannya.

Dalam penyampaian materinya, Kakanwil menjelaskan tentang pengertian moderasi beragama yang merupakan salah satu dari 7 program prioritas Kementerian Agama. “Moderasi beragama berarti kita mengamalkan ajaran agama kita. Kita berperilaku, berbicara, berdakwah, bersosial media sesuai dengan ajaran agama masing-masing,” terang Kakanwil.

“Moderasi beragama adalah cara pandang dalam beragama secara moderat yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem ke kanan maupun ekstrem kiri,” lanjut bapak dua anak ini.

Moderasi beragama yang disusun Kementerian Agama mencatatkan  ada empat indikator moderasi beragama yaitu (1) komitmen kebangsaan, (2) toleransi, (3) anti-kekerasan, dan (4) akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Upaya pemenuhan empat indikator ini dapat ditempuh melalui pengarusutamaan agama sebagai etika sosial. Sebab, jalan inilah yang harus ditempuh agar agama tidak hanya berada dalam wacana atau sekedar dogma belaka, tetapi juga teraktualisasikan dalam praktiknya.

Kakanwil menerapkan filosofi baris berbaris dan kereta api cepat dalam menakhkodai lembaga Kementerian Agama. Dalam filosofi baris berbaris, hanya ada satu komando, satu gerakan agar organisasi bisa berjalan bersama secara rampak. “Bila Kepala Kantor Kemenag mengatakan A, semua jajaran harus kompak mengikuti A supaya target yang direncanakan dapat berhasil,” jelasnya.

Sedangkan dalam filosofi kereta api cepat, ujar Kakanwil hanya ada satu rel untuk gerbongnya Kemenag. Pada gerbong kereta tersebut, lanjut Kakanwil, masinisnya adalah kepala kantor, dengan tujuan jelas, dan waktunya pun sudah jelas.

" Bila ada yang terlambat pasti ketinggalan, bila ada yang menghalangi pasti tertabrak. Farfa' bidlommin junjung tinggi aturan, wansiban fat-han transparan, wa jur katsron musyawarah," terangnya.

Kakanwil juga mengingatkan jika ada isu negatif terkait Menag atau instansi, para ASN harus mengklarifikasi/ meluruskan. “Jangan malah  ikut-ikutan menyebarkan berita hoax,” pesannya.(ev/and)

ed:isn