Transparansi Perencanaan dan Pengelolaan Madrasah Berbasis Kinerja di Era 4.0



 

Bangsa Indonesia saat ini sedang menapak menuju masyarakat Indonesia baru yang mencakup dua aspek yaitu mengatasi krisis global yaitu pandemi covid-19 yang berkepanjangan dengan membangun bangsa yang demokratis dan mempersiapkan diri dalam kehidupan baru. Kondisi ini yang menuntut madrasah sebagai salah satu pilar dalam pengembangan generasi muda dengan visi dan misi kehidupan bangsa di era 4.0 dengan menagktulaisasikan potensi-potensi positif yang di miliki madrasah . Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berciri khas Islam sangat menarik perhatian dalam melaksanakan cita-cita pendidikan nasional, oleh karena bukan saja peserta didiknya tetapi juga karena ciri khas madrasah yang sesuai dengan cita-cita reformasi.  Dari segi inilah peranan madrasah sangat diperlukan karena pendidikan madrasah yang selama ini seakan-akan tersisih dari mainstream pendidikan nasional namun berkenan dengan pendidikan anak bangsa, madrasah juga sebagai pendatang baru dalam sistem pendidikan nasional menghadapi berbagai persoalan dan kendalan dalam hal mutu, manajemen, termasuk didalamnya kurikulumnya. Namun demikian madrasah mempunyai potensi yang besar dalam peningkatan nilai-nilai positif yang syarat dengan nilai budaya bangsa.

Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia lebih muda bila dibandingkan dengan lembaga pesantren. Madrasah lahir pada abad 20 dengan munculnya madrasah Manba’ul Ulum Kerajaan Surakarta tahun 1905 dan sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad di Sumatera Barat tahun 1909, sejak dulu hingga saat ini kehadiran madrasah diharapkan mampu melakukan perubahan dan pengembangan prilaku masyarakat (Malik Fajar, 2003). Madrasah secara historis diartikan sebagai sebah lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia dan telah menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. Akan tetapi dalam perjalanannya, keunggulan madrasah masih tertinggal dengan pendidikan lainnya yang tergolong baru.

            Berbagai kendala dalam pengembangan madrasah saat ini antara lain: manajemen pengelolaan madrasah yang kurang professional baik dalam pengembangan program pendidik akan kurikulum, sistem pembelajaran, sumber daya manusia (SDM), sumber dana dalam pengembangan sarana dan prasaraan yang kurang memadai, mutu pendidikan yang terkait dengan kelulusan siswa serta belum tercapainya SNP (Standar Nasional Pendidikan) yang meliputi 8 standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, pengelolaa standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan. Dengan demikian setiap madrasah dituntut untuk memenuhi standar tersebut untuk selanjutnya berusaha meningkatkan kualitasya ke standar yang lebih tinggi.

            Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan madrasah dituntut untuk menyelenggarakan dan mengelola pendidikan secara totalitas dan tidak sekedarnya, madrasah harus memberikan Quality Assurance (jaminan mutu), mampu memberikan layanan yang baik serta mamu mempertanggung jawabkan kinerjanya kepada peserta didik, orang tua, masyarakat ataupun yang lainnya. Namun seiring dengan perkembangan zaman, tantangan, peluang dan hambantan pendidikan Islam terus mengalami perkembangan dan perubahan. Memasuki era industry 4.0 dimana era ini membawa dampak yang tidak sederhana, dengan ditandai semakin sentral peran teknologi cyber dalam kehidupan manusia. Maka tidak mengherankan jika dalam dunia pendidikan muncul istiliah “pendidikan 4.0”

            Munculnya era 4.0 dalam dunia pendidikan kita membawa banyak perubahan terlebih di saat ini pandemi covid-19 ini pendidikan kita berubah menjadi sistem pendidikan dengan jarak jauh (PJJ) dimana akses teknologi informasi internet menjadi basis dalam kehidupan manusia. Era 4.0 yang menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic dan sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Segala hal menjadi tanpa batas (bonderless) dengan penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas, karena dipengaruhi oleh perkembangan internet dan teknologi digital yang massif sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin. Era ini juga akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia, termasuk didalamnya bidang ilmu pegetahuan dan teknologi (iptek) serta pendidikan tinggi (Nur Asnawi, 2018).

            Dalam menghadapi era 4.0 maka madrasah telah mengadakan inovasi yang baru untuk dapat menghadapi persoalan manajeman dalam tata perencanaan dan pengelolaan madrasah yang berbasis kinerja agar dalam perencanaan dan pengelolaan madrasah dapat bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya. Anggaran kinerja adalah proses penganggaran yang memperhatian output dan outcame dalam pelayanan dan program. Di mana dalam anggaran kinerja ini menghubungkan antara pengeluaran dan hasil yang ingin dicapai. Dalam proses ini juga menilai tingkat efektiftivitas, efisiensi dan ekonomis (value  for money) agar tercipta good govermance yang merupakan salah satu tujuan reformasi kita adalah tata kelola pemerintah yang baik transparansi, akuntabilitas, pastisipasi. Di era reformasi di harapkan kita dalam proses perencanaan dan pengelolaan madrasah ini bersifat transparan terbuka bukan hanya ditutupi atau menjadi rahasia antara kepala madrasah dan bendahara. Kemudian akuntabilitas artinya bahwa dalam tata perencanaan dan pengelolaan madrasah berbasis kinerja ini setiap kegiatan yang dilaksankan di madrasah dapat dipertanggungjawabkan atau seorang pemimpin harus amanah dalam menjalankan kegiatan atau program. Akuntabilitas sebagai pertanggungjawaban itu berwujud penjelasan secara rinci baik proses maupun hasil akhir. Proses mencakup perencanaan, pelaksanaan perhitungan dan evaluasi. Sedangkan hasil lebih berorentasi pada outcome.

            Indikator berbasis  kinerja meliputi input (masukan), output dan outcome. Ada hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam mengindentifikasi indikator kinerja pada madrasah adalah pertama mengidentifikasikan kelompok sasaran program/kegiatan, kedua mengindentifikasi lokasi kegiatan, ketiga harus relevan dengan tupoksi dan yang keempat menggunakan metode empat kuadran. Metode empat kuadran untuk membedakan antara input dan output. Input itu sendiri merupakan sesuatu yang di gunakan sedangkan  output sesuatu yang dihasilkan dan hasil akhirnya dinamakan  outcome. Sering kali dalam perencanaan madrasah input berarti sumber dana, hal inilah yang menjadi persoalan yang mendasar bagi tata pengelolaan madrasah input dalam perencanaan bukan hanya sumber dana akan tetapi sumber daya manusia (SDM), layanan artinya siswa-siswi juga merupakan bagian dari input. Perencanaan dan pengelolaan madrasah yang berbasis kinerja ini diharapkan dalam tata kelola madrasah tidak hanya berbasis pada kuantitas akan tetapi berdasarkan metode empat kuadrat yang keempat yaitu input maupun output baik secara kuantitas dan kualitas dapat terukur misalnya bukan hanya jumlah kegiatan, jumlah peserta, atau dari kualitas input dengan melihat rasio beban kerja tetapi yang lebih baik dari perencanaan dan pengelolaan madrasah adalah berapa prosentase pengetahuan/ketrampilan, berapa persen sikap, prilaku dan kondisi siswa dan guru dan layanan madrasah. Maka dari itu perlunya perencanaan dan pengelolaan madrsah berbasis kinerja ini secara online yang nantinya akan menciptakan suatu manajemen pengeloloan madrasah yang lebih baik, transparan, akuntabilitas dan partisipasi masyarakat dalam ikut serta menilai pertanggungjawaban kinerja madrasah agar kedepannya lebih baik.

            Sistem perencanaan dan pengelolaan berbasis kinerja ini diharapkan kedepannya kontrol terhadap penggunaan dan BOS (Bantuan Operasional Sekolah) serta bantuan dari pemprov Jatim BPOPP (Biaya Penunjaung Operasional Penyelenggaraan Pendidikan) untuk MA dapat lebih transparan, akuntabilitas dan pastisipatif  dan melalui program e-RKM (Rencana Kerja Madrasah berbasis Elektronik) mulai tingkat madrasah, kemanag kab/kota, provinsi hingga pusat lebih efektif, efesien dan ekonomis sehingga dapat mewujudkan cita-cita reformasi kita membentuk Good Government.

Penulis : Arini Indah Nihayaty, S.Pd, M.Si