Peletakan Batu Pertama Pembangunan di MTsN 6 Malang, Kakanwil Pesankan Ini



Kab. Malang (MTsN6) - Tahun 2022, MTsN 6 Malang mendapatkan proyek pembangunan yang dibiayai oleh Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Proyek tersebut berupa pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) serta ma'had MTsN 6 Malang.

Sebagai langkah awal pembangunan, Selasa (21/6) pagi ini dilakukan peletakan batu pertama oleh Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur Husnul Maram.

Peletakan batu pertama pada pembangunan 2 gedung ini juga dihadiri oleh para pihak yang terlibat pembangunan gedung seperti penyedia, perencana, pengawas dan konsultan. Selain itu, Kasubbag TU, Kasi PendMa, serta komite turut hadir pada kegiatan yang mendatangkan orang nomor satu di Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur.

Maram menjelaskan, tidak semua madrasah negeri mendapatkan proyek SBSN. Maka, Kakanwil meminta MTsN 6 Malang untuk melaksanakan pembangunan sesuai aturan dengan kualitas hasil bangunan yang baik dan maksimal

Agar pembangunan gedung bisa berjalan lancar, selamat dan memuaskan, maka tegas Kakanwil harus sesuai dengan regulasi yang ada. " Jangan sampai melanggar regulasi sehingga muncul temuan. Pastikan dari awal hingga akhir tidak ada temuan," pesannya.

Untuk itu, tambah Maram diperlukan kerjasama antara penyedia, perencana, konsultan pengawas, konsultan perencara dengan semua pihak yang terlibat.

"Seringlah rapat koordinasi, pembangunan harus sesuai aturan. Dari semua pihak harus dikomunikasikan dan dikoordinasikan," sambungnya.

Penyedia, konsultan dan semua pihak yang terlibat, ia harapkan dapat melaksanakan tugasnya dengan saling berkomunikasi yang baik agar mendapat kualitas bangunan yag baik. "Lakukan sesuai aturan degan berita acara ketika terjadi perubahan," tambah ia.

Karena saat ini sudah memasuki akhir Juni, Kakanwil meminta satker segera melakukan penyerapan anggaran yang masih belum terserap. 

Selain itu, Kakanwil juga menyampaikan tentang pentingnya moderasi beragama. Moderasi beragama, lanjutnya, bukan berarti memoderasi agama, karena agama dalam dirinya sudah mengandung prinsip moderasi, yaitu keadilan dan keseimbangan.

"Bukan agama jika ia mengajarkan perusakan di muka bumi, kezaliman, dan angkara murka. Agama tidak perlu dimoderasi lagi. Namun, cara seseorang beragama harus selalu didorong ke jalan tengah, harus senantiasa dimoderasi, karena ia bisa berubah menjadi esktrem, tidak adil, bahkan berlebih-lebihan," terang Kakanwil.

Orang yang moderat adalah orang yang bisa mendudukkan dirinya di antara 2 atau lebih perbedaan. “Semua moderasi beragama adalah semua yang berikatan dengan kehidupan bersama, maka setiap orang tidak dapat mengatakan pendapatnya paling benar, setiap orang memiliki persepsi yang berbeda dan kita harus menghargai itu,” tuturnya.

Maram menambahkan ada 4 ciri orang yang moderat adalah komitmen kebangsaan. Indonesia bukan negara agama, juga bukan negara yang sekuler. Ini mengartikan bahwa orang Indonesia harus memiliki rasa komitmen kebangsaan karena hidup dalam keberagaman.

Ciri kedua adalah  orang yang toleran, berarti saling menghargai karena dasar kemanusian. Menjaga toleransi adalah sama dengan menjaga hati orang lain.

Ciri ketiga adalah menerima kearifan lokal yang juga akan menciptakan rasa toleransi antara tradisi dan budaya.

Ciri keempat atau yang terakhir adalah anti kekerasan. Hidup dalam keberagaman dan perbedaan menjadi potensi untuk bertindak kekerasan. Menjadi orang yang moderat adalah orang yang anti kekerasan terhadap adanya perbedaan. (Isn)

Editor: and/ev