Pembinaan Moderasi Beragama di MAN IC Pasuruan, Kakanwil Ajak Berfikir Moderat



Kab. Pasuruan (Humas) - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Husnul Maram menghadiri kegiatan Penguatan Moderasi Beragama bagi Guru dan Tenaga Kependidikan di MAN Insan Cendekia pada Selasa (21/6). Turut hadir dalam kegiatan ini Kabid BNPT Provinsi Jawa Timur serta Kajari Pasuruan. Peserta merupakan guru dan tenaga kependidikan MAN IC Pasuruan yang berjumlah 38 orang.

Mengawali materinya Maram mengulas kegiatan haji tahun 2022 di Asrama Haji Embarkasi Surabaya. "Alhamdulillah tahun ini kita diberi kesempatan memberangkatkan 38 kloter dari Asrama Haji Embarkasi Surabaya, 36 kloter dari Jawa Timur, dua kloter jemaah dari NTT dan Bali. Pagi tadi kita memberangkatkan kloter 24 dan kloter 25. Gubernur Jawa Timur memberangkatkan kloter 24 yang merupakan jemaah dari Jember, Banyuwangi, Situbondo, dan Sidoarjo. Sedangkan kloter 25 yang berasal dari NTT dan Sidoarjo diberangkatkan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur NTT," terang Maram.

Kakanwil memberikan wawasan tentang moderasi beragama yang merupakan salah  satu dari tujuh program prioritas Kementerian Agama."Moderasi beragama berarti kita bersikap, berbicara, bergaul, bersosial media dan melakukan semua hal sesuai dengan syariat agamanya," terang pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Kankemenag Kota Surabaya ini.

Jadi moderasi beragama itu lebih kepada sikap kita yang tidak ekstrim ke kenan maupun ke kiri. "Kita berada di tengah-tengah. Yang harus ditegaskan disini. Moderasi beragama itu berbeda dengan moderasi agama. Kita tidak memoderasi agamanya karena itu sudah sesuai ajaran kitab suci," terangnya.

Maram menjelaskan sikap moderasi beragama ini sudah dicontohkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Rasulullah mengajarkan kita untuk menghormati sesama manusia meskipun dia berbeda agama dengan kita.

Lebih lanjut Maram menjelaskan ada 4 indikator moderasi beragama, yaitu: komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, mengakomodasi budaya lokal.

Pertama, komitmen kebangsaan adalah sikap loyal kita kepada NKRI, Pancasila, serta UUD 1945. Kedua, toleransi berarti kita mengembangkan sikap saling menghormati dengan sesama manusia tanpa melihat perbedaan latar belakangnya. Ketiga anti kekerasan berarti kita menghindari bentuk kekerasan baik secara verbal maupun sikap."Kepada guru-guru MAN IC, hendaknya dalam mendidik siswa menghindari segala kata-kata yang kasar. Mari kita ajarkan kepada anak didik dengan kelembutan dan kasih sayang tetapi tetap tegas," pintanya.

Sedangkan indikator yang keempat adalah mengakomodasi budaya lokal, maksudnya kita tetap memelihara nilai-nilai asli daerah yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.(ev/and)

Ed:isn