Kakanwil Bersama Sastrawan Indonesia, Zawawi Imron Berikan Inspirasi di Kemenag Sampang



Kab. Sampang (Humas) – Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Husnul Maram menghadiri kegiatan pembinaan ASN di Kemenag Kabupaten Sampang pada Selasa (10/5). Dalam kegiatan ini, turut hadir KH. D. Zawawi Imron yang merupakan budayawan internasional dari Madura. Pada kesempatan ini, Zawawi memberikan motivasi kepada ASN dalam menghargai dan menghormati orang-orang yang memberikan jasa penting dalam kehidupan kita.  

Sebelum D. Zawawi Imron memaparkan materinya, Kakanwil mengingatkan para hadirin untuk bisa menghadirkan sikap muhadhoroh yakni menghadirkan hati dan fikiran dalam 1 kesatuan. “Insya Allah materi yang disampaikan narasumber ataupun penceramah akan melekat pada ingatan kita. Jika kita tidak bisa bersikap muhadhoroh, maka raga kita hadir di sini tapi fikiran ada dimana-mana sehingga pesan dari pemateri tidak tersampaikan dengan maksimal,” terangnya.

Dalam materinya, Zawawi mengingatkan bahwa para pendidik termasuk guru, kyai, atau dosen adalah orang-orang yang harus kita hormati. “Dalam salah satu lagu nasional kita mengenal bahwa para guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Padahal dalam dunia pesantren atau agama, guru itu adalah orang yang harus diberi tanda jasa,” jelasnya. Menurut Zawawi, penghargaan untuk jasa para guru melebihi nilai 25 gram emas bahkan gunung emas setinggi Semeru sekalipun. “Kita bisa menunjukkan penghormatan kita pada para guru dengan cara membaca surat Al-Fatihah setidaknya sekali setelah shalat fardlu. Hal ini nilainya melebihi nilai emas setinggi Gunung Semeru,” terang pria kelahiran Sumenep ini.

 

Dalam berbagai lini kehidupan, Zawawi juga mengingatkan untuk senantiasa menghadirkan Allah SWT. “Menjadi suami istri bukan hanya sekedar konco wingking tapi saling mendoakan untuk saling mendukung satu sama lain,” tuturnya. Zawawi mengingatkan agar sebagai anak bisa menunjukkan baktinya kepada orang tua. “Jabatan dan kesuksesan yang kita raih saat ini tidak terlepas dari doa-doa orang tua kita,” ujarnya. Bagi mereka yang memiliki orang tua yang masih hidup, Zawawi berpesan untuk sesering mungkin mengunjunginya. Sementara bagi anak yang orang tuanya sudah meninggal dapat tetap terhubung dengan rutin mendoakan dan mengirim surat Al-Fatihah setelah shalat. “Al Fatihah yang mendekatkan seorang anak dengan orang tuanya yang sudah tiada,” terangnya. Zawawi juga menjelaskan arti pentingnya kehadiran seorang ibu dalam kehidupan manusia yang dia tuangkan dalam sebuah karya puisi berjudul “Ibu”.

Para peserta pembinaan tampak antusias mendengarkan puisi yang dibacakan Zawawi dengan penuh penjiwaan. (ev/and)

Ed:isn