Tari Sufi MAN Takeran Pukau Penonton Pawai Budaya



Tari Sufi MAN Takeran Pukau Penonton Pawai Budaya

Kab. Magetan (MAN Takeran) -  MAN Takeran selalu tampil eksis dalam Pawai Budaya yang diadakan oleh Pemkab Magetan dan diselenggarakan pada setiap tahun serta diikuti oleh seluruh instansi pendidikan baik dari pihak Dindik maupun Kemenag.

MAN Takeran pada tahun ini  menampilkan Tari Sufi dengan tema : Menggapai Cinta Ilaihi dengan Tari. 
Tari Sufi di MAN Takeran menjadi salah satu ekskul yang iconic dan bahkan menjadi ciri khas yang mampu menarik perhatian banyak pihak pada madrasah ini. 
Dibawah asuhan Kyai Budi Hardjono the owner "Rumah Cinta" Semarang, ekskul Tari Sufi di MAN Takeran dibina langsung oleh pembina IWP (OSIS MAN) yakni M. Sujud MQ.

Pada pawai budaya tahun 2017 kali ini, MAN Takeran menampilkan 23 penari laki-laki dan perempuan. MAN Takeran kali ini memadukan antara Tari Sufi milik Jalaluddin Rumi dengan budaya lokal Caping Gunung khas Magetan. 
Penampilan Tari Sufi yang dibalut dengan budaya lokal itu diiringi oleh grup hadrah Banjari yang juga sebagai salah satu Ekskul MAN Takeran. 

Pukul 14.00. WIB, seluruh peserta diberangkatkan dari GOR Ki Mageti oleh Bupati Magetan Sumantri. Diawali oleh peserta dari SMP sederajat yang berjumlah 44 , lalu tingkat MA/SMA/SMK sederajat yang berjumlah 24.
Mendapat urutan nomor 3, MAN Takeran tampil percaya diri dengan dua penari yang berputar-putar diatas mobil yakni : Ika Puspita Kelas XII IIK dan Devi Rofiatus S. Kelas XI MIA 3, beserta  21 penari Sufi lain menari di sepanjang jalan mulai stadion Li Mageti hingga finish di alun - alun dengan membuat formasi yang mengundang decak kagum penonton. 
Lebih lebih saat tampil di depan panggung kehormatan, tempat bapak bupati duduk, salah satu penari : Dona Febri Antika kelas XI IIS,  berputar-putar menuju panggung kehormatan dan menyerahkan rangkaian bunga dan tasbih kepada bapak Bupati. 
Sontak semua hadirin memberi applus yang meriah karena kepiawaiannya dalam menari tarian Jalaluddin Rumi dari Turki ini. 

Tak berhenti sampai disitu saja, sepanjang perjalanan menuju alun-alun, tepuk tangan penonton tak henti saat para penari berputar - putar.
Banyak pihak yang bertanya perihal ketahanan para penari berputar-putar selama itu.  
M. Sujud menyatakan "itulah bedanya tari Sufi dengan semua tari yang lain" . Tari Sufi bukanlah menari untuk menari itu sendiri, ia hanyalah sarana pembelajaran bagaimana kita tetap bisa berpijak pada Yang Satu (Tauhid),  ditengah putaran semesta raya yang tiada pernah berhenti. 
Semua gerakan penuh makna dan arti yang diperuntukkan mencapai cinta sejati dari Sang Maha Pecinta terhadap semua makhluknya yakni  Allah SWT.

Keikutsertaan MAN Takeran pada setiap kali pawai budaya diadakan oleh Pemkab Magetan adalah dalam rangka Syiar Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang semakin hari semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat juga dalam rangka syiar agama,  agar masyarakat semakin tahu bahwa Madrasah adalah memang lebih baik dan Lebih baik Madrasah. (Azzams)

Editor : hans/isn/mn